Pages

translate

My Bloglys

Aangedryf deur Blogger.

19 April 2013

Filsafat Pendidikan IPS

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada kesempatan kali ini, saya akan menjelaskan tentang Filsafat Pendidikan IPS. Karena Pendidikan IPS ini memerlukan Filsafat guna menghindari terjadinya Salah Kaparah dalam penerapannya. Karena didalamnya terkandung Konsep dasar IPS yaitu agar terlebih dagulu mempuyai konsep dan strategi dalam mengajar. Pada tuisan ini saya tidak akan menjelaskan tentang Filsafat secara lebih rinci lagi. Karena sebelumnya kita memang sudah membahasny dalam Mata Kuliah Filsafat Pendidikan. Mungkin hanya sekilas saja pengertian Filsafat yang dijelaskan guna meningat kembali apa yang dimaksud Filsafat itu sendiri. B. Rumusan Masalah Dalam makalah ini terdapat beberapa Rumusan Masalah yang antara lain: 1. Apakah yang dimaksud dengan Filsafat Pendidikan IPS? 2. Apasajakah Unsur-unsur dalam Filsafat Pendidikan IPS? 3. Apakah yang menjadi tujuan Filsafat Pendidikan IPS? C. Tujuan Tentunya dalam penyusunan Makalah ini terdapat tujuan, Antara lain: 1. Mengerti tentang Filsafat Pendidikan IPS. 2. Mengetahui Unsur-unsur dalam Filsafat Pendidikan IPS 3. Mengetahui tujuan Filsafat Penidikan IPS.  BAB II PEMBAHASAN FILSAFAT PENDIDIKAN IPS A. Filsafat Pendidikan IPS Sebelumnya kita mungkin memang pernah mendengar Apa itu yang dimaksud dengan Filsafat? Karena sebelumnya kita memang sudah pernah mempelajarinya dalam Mata Kuliah Filsafat Pendidikan. Disini saya hanya akan mereview kembali apa itu yang dimaksud dengan Filsafat. Filsafat dapat kita definisikan sebagai upaya manusia dan keseluruan lingkungan untuk memperoleh jawaban – jawaban. Maka semua manusia pada umumnya pernah bahkan pernah berfilsafat. Karena memang manusia sering menghadapi permasalahan dan berusaha untuk menjawab dan mengatasinya dengan segala urusan pemikirannya. Dan manusia memang selalu mencari tentang kebenaran dan kebijaksanaan, yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk, yang indah dan sebagainya. Jadi semua orang pernah dan bahkan berfilsafat. Dalam hal ini disebut filsafat orang awam dalam arti semua orang berfikir untuk mencari jawaban. Kemudian selain pengertian Filsafat secara general, kita juga sudah mengetahui apa yang dimaksud dengan Filsafat Pendidikan, yaitu ilmu yang menyelidiki hakekat pelaksanaan pendidikan yang bersangkut paut dengan tujuan, latar belakang, cara dan hasilnya, serta hakekat ilmu pendidikan, yang berhubungan dengan analisis kritis terhadap struktur dan kegunaan pendidikan. Manusia dalam kehidupannya, sebagai mahluk sosial baik secara individu maupun kelompok tidak bisa lepas dari interaksi dengan lingkungannya, baik sesama manusia maupun lingkungan alamnya. Corak hubungan antara manusia dengan lingkungannya mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan zaman dan kemajuan peradaban manusia. Perubahan dan perkembamgan ini juga yang membuat manusia dan kehidupannya dihadapkan pada berbagai persoalan sosial. Persoalan–persoalan kehidupan manusia dilihat dari sisi sosial kian hari makin banyak, dan makin kompleks. Bahkan akhir – akhir ini dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk didunia, dan semakin terbatasnya sumber – sumber penghidupan manusia, membuat kehidupan manusia semakin kompleks, kompetitif, dan menjadi tidak menentu. Tidak hanya keterbatasan manusia secara fisik, karena kepadatan penduduk, tetapi juga persaingan hidup secara sosial semakin sulit. Akibatnya pendekatan ilmu tertentu tidak mungkin lagi untuk mengatasi persoalan – persoalan kehidupan manusia yang terjadi baik secara lokal, nasional maupun global. Telah kita ketahui bersama bahwa dari semua ilmu pengetahuan adalah filsafat. Semua ilmu baik ilmu alam maupun ilmu-ilmu sosial ditilik dari pengembangannya bermula sebagai filsafat. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita ketahui dan apa yang belum kita ketahui. Filsafat pada hakikatnya mempersoalkan hidup dan kehidupan manusia didunia, misalnya apa arti hidup, apa tujuan hidup, apa ada kehidupan sebelum dan sesudah kita sekarang, dan sebagainya. Kodrat manusia selalu ingin tahu. Dorongan ingin tahu itu dimanifestasikan melalui observasi, penelaahan dan penyelidikan alam sekitarnya sesuai dengan kapasitas dan perkembangan alam pikiran. Semakin tinggi tingkat kecerdasan individu atau kelompok manusia, semakin banyak rasa ingin tahunya dan semakin banyak pula persoalan dan tantangan dalam kehidupan. Untuk menjawab aneka ragam persoalan dan tantangan dalam kehidupan Ini, lahirlah cabang ilmu pengetahuan. Berdasarkan sumber filsafat yang dianggap sebagai ibu dari ilmu pengetahuan lahirlah tiga cabang ilmu pengetahuan, yaitu : 1. Natural Sciences (ilmu-ilmu alamiah) meliputi : fisika, kimia, astronomi, biologi, botani, dll 2. Social Sciences (ilmu-ilmu sosial) terdiri atas : sosiologi, ekonomi, politik, antropologi, sejarah, psikologi, geografi, dll. 3. Humanities (ilmu-ilmu budaya) meliputi : bahasa, agama, kesusastraan, kesenialah, dll. Dalam dunia pengajaran ilmu-ilmu sosial telah mengalami perkembangan sehingga timbullah paham studi sosial (social studies). Paham studi sosial dipergunakan bagi keperluan pendidikan dan pengajaran, dan bukan merupakan satu disiplin ilmu yang mandiri. Social studies adaah ilmu-ilmu sosial yang diselenggarakan untuk tujuan-tujuan pendidikan dan pengajaran disekolah dasar dan menengah (elementary and secondary school). Dengan begitu, tandaslah sudah bahwa ilmu pengetahuan sosial yang dipilih dan disesuaikan bagi penggunaan program pendidikan disekolah atau bagi kelompok belajar lainnya, yang sederajat. Materi dari berbagai disiplin ilmu seperti geografi, sejarah, sosiologi, antropologi, psikologi sosial, ekonomi, ilmu politik, ilmu hukum, dan ilmu sosial lainnya dijadikan bahan baku bagi pelaksanaan program pendidikan dan pengajaran disekolah dasar dan menengah. Ilmu pengetahuan sosial adalah bidang studi lain yang merupakan paduan (fusi) dari sejumlah mata pejaran sosial. Filsafat Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) pada dasarnya tidak berbeda dengan filsafat-filsafat ilmu pendidikan lainnya, karena filsafat pendidikan IPS juga merupakan filsafat praktik pendidikan, yaitu praktik tentang pendidikan ilmu-ilmu sosial agar para peserta didik mampu memahami masalah-masalah sosial dan mampu mengatasinya serta mengambil keputusan yang tepat terhadap masalah yang dihadapi dalam kehidupannya. Adapun Fungsi-fungsi Filsafat Pendidikan IPS antara lain: 1. IPS sebagai Transmisi Kewarganegaraan (Social Studies as Citizenship Transmission) IPS sebagai program pendidikan pelestarian kebudayaan suatu bangsa sudah adanya manusia itu sendiri. Dalam berbagai literatur program pendidikan citizenship transmission dilakukan dengan memberikan contoh-contoh dan pemakaian cerita yang disusun untuk mengajarkan kebijakan, cita-cita luhur suatu bangsa, dan nilai-nilai kebudayaan. Program pendidikan seperti ini banyak dilakukan dalam pembelajaran IPS yang membahas kompetensi sejarah, dan pendidikan kewarganegaraan. Tujuan yang hendak dicapai dari citizenship transmission adalah sebagai berikut : a. Pengembangan pengertian Patriotisme b. Pengembangan pengertian dasar dan apresiasi terhadap nilai-nilai bangsa, lembaga dan praktik-praktik c. Memberi inspirasi ada integrasi pribadi dan tanggung jawab warga negara. d. Membentuk pengertian dan apresiasi terhadap nenek moyang bangsa. e. Mendorong partisipasi demokrasi aktif. f. Membantu murid-murid mendapatkan kesadaran kan problema-problema sosial. g. Pengenbangan dan mempertontonkan cita-cita yang diinginkan, sikap-sikap, dan keterampilan bertingkah laku yang sangat diperlukan dalam hubungan baik pribadi-pribadi dengan yang lain. h. Untuk mengerti dan memahami sistem ekonomi yang bebas. 2. IPS sebagai Penddikan Reflektif (Social Studies as Reflective Inquiry) Pendidikan Reflektifbukan sekedar mengajarkan disiplin ilmu pengetahuan dan pemindahan nilai secara akumulatif, tetapi kurikulum sekolah harus berpegang kepada kebutuhan dan minat murid sekolah, tidak perlu berusaha untukmemindahkan segudang pengetahuan yang tidak perlu dan tidak relevan, mereka harus menjadi penolong murid untuk hidup lebih efektif dalam kemelut zamannya. Pendidikan tidak hanya mempersiapkan kehidupan dewasa, pengalaman-pengalaman edukatif sekarang ini sangatlah penting. Cara terbaik untuk melatih dan mempersiapkan sikap kewarganegaraan untuk masa mendatang adalah dengan membekali kesempatan-kesempatan untuk mempraktikkan Citizenship pada waktu ini. Oleh karena itu, pendidikan IPS harus mengajarkan kejadian-kejadian mutakhir dan decision making serta pengalaman masa lalu. 3. IPS sebagai Kritik Kehidupan Sosial (Social Studies as Social Criticism) Pendidikan IPS sebagai media pengembangan kriticisme agak jarang dilakukan oleh guru, disamping karena takut salah dan kena sanksi, juga relatif sulit. Pendidikan model ini lebh pada pendidikan kontroversial Issuedan pendidikan yang merupakan pengembangan kemampuan pengetahuan dan memupuk keberanian mengemukakan pendapat atau argumen. Untuk ini pendidikan IPS harus dapat mengembangkan kemampuan berfikir kritis (Critical Thinking) dengan berbagai meode pemecahan masalah (Problem Solving). 4. IPS sebagai Pengembangan Pribadi Seseorang (Social Studies Personal Development of The Individual) Pengembangan pribadi seseorang melalui pendidikan IPS tidak langsung tampak hasilnya, tetapi setidaknya melalui pendidikan IPS akan membekali kemampuan seseorang dalam pengembangan diri melalui berbagai keterampilan sosial dalam kehidupan (Socia Life Skills). Pendidikan IPS disini harus membekali siswa tentang pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai, sehingga semua itu dapat membentuk citra diri siswa menjadi manusia yang memiliki jati diri yang mampu hidup di tengah masyarakat dengan damai, dan dapat menjadikan contoh teladan serta memberikan kelebihannya pada orang lain. B. Unsur-unsur dalam filsafat pendidikan IPS. 1. Perkembangan Sosial Manusia dan masyarakat hidup, berubah dan berkembang dari cara mereka membuat barang-barang material untuk memenuhi kebutuhannya. 2. Kesadaran Sosial Yaitu ide, gagasan, dan pikiran yang ada pada manusia yang lahir dari keadaan sosial. 3. Ideologi Sosial, Adalah bangunan atas suatu masyarakat, yaitu sistem keyakinan yag dianut oleh suatu masyarakat tertentu. Ideologi itu berdasarkan pada basis. 4. Perjuanagan Sosial Ialah tindakan masyarakat untuk mengubah sistem sosial yang berlaku sesuai dengan perkembangan tenaga produktif masyarakat. 5. Perubahan Sosial Bergantinya sistem politik dan sosial suatu masyarakat, pada umumnya melelui revolusi. 6. Pimpinan Sosial Dalam perkembangan sejarah masyarakat, setiap kelompok manuia ada yang menjadi peimpin dan ada yang menjadi pengikut (massa). Pemimpin dan massa merupakan satu kesatuan yang utuh yang tidak dapat terpisahkan. C. Tujuan Filsafat Pendidikan IPS Tujuan filsafat pendidikan IPS antara lain : 1. Memberikan landasan dan sekaligus mengarahkan kepada proses pelaksanaan pendidikan. 2. Membantu memperjelas tujuan – tujuan pendidikan. 3. Melaksanakan kritik dan koreksi terhadap proses pelaksanaan pendidikan. 4. Melakukan evaluasi terhadap metode dari proses pendidikan.   BAB III PENUTUP Kesimpulan Dalam makalah ini terkandung sedikit wawasan agar kita mengerti filsafat karena untuk mengajar tidak hanya mengetahui dasar-dasar IPS yang akan diajarkan. Filsafat sebenarnya adalah ilmu yang abstrak, karena berbagai banyak pihak yang memunyai banyak gagasan tentang Filsafat itu sendiri. Jadi, mohon maaf bila pengertian Filsafat yang saya Sampaikan ditulisan berbeda dengan Persepsi para Pembaca Semua. Filsafat disini, bermaksud agar kita tidak salah kaprah dengan Pendidikan IPS, dan lebi menerapkan IPS terpadu seperti yang telah disampaikan. Didalamnya juga disinggung tentang nsep dasar ilmu IPS yaitu agar kita sebelum mengajar terlebih dahulu mempunyai konsep dan strategi, karena ini cara jitu agar kita langsung tertuju pada apa yang akan diajarkan.  DAFTAR PUSTAKA • Gunawan, Rudy., 2011, Pendidikan IPS ‘Filosofi, Konsep dan Aplikasi’, Bandung: ALFABETA. • Sadulloh, Uyoh., 2012, Pengantar Filsafat Pendidikan, Bandung: ALFABETA.

27 Maart 2013

Keterampilan dalam Berempati

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sebagai makhluk sosial, yang setiap hari bergaul dengan begitu banyak orang, kita mungkin sering mengalami konflik dengan orang lain. Kebanyakan konflik itu muncul akibat ketidakmampuan kita mengelola hubungan antar pribadi. Ketidak mampuan itu menimbulkan keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi diri dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain disebut sebagai empati. Maka, seseorang dapat dikatakan bisa berempati atau mempunyai empati apabila seseorang mampu memahami perasaan dan pikiran orang lain. Empati dan peduli adalah sebuah sifat sekaligus pekerjaan dalam menjalin hubungan antar sesama, baik sesama manusia maupun sesama makhluk hidup. Empati dan peduli adalah bekal untuk menjalin hubungan penuh cinta dan kasih sayang, tanpa pamrih dalam menebar cinta dan kasih sayang itu sehingga ia akan dikenang sepanjang masa, lekat dihati dan sangat berharga bagi kehidupan ini. Kehadirannya sangat dinanti dan kepergiannya tak diingini. A. Rumusan Masalah 1. Apa Definisi dan Konsep Empati? 2. Bagaimana Cara Menumbuhkan Empati? 3. Apa Saja Hambatan Dalam Berempati? 4. Apa Saja Faktor yang Mempengaruhi Proses Empati? 5. Apa Manfaat Empati? B. Tujuan Penulisan 1. Agar Mengetahui Definisi dan Konsep Empati. 2. Agar Mengetahui Cara Menumbuhkan Empati. 3. Agar Mengetahui Hambatan Dalam Berempati. 4. Agar Mengetahui Faktor yang Mempengaruhi Proses Empati. 5. Agar Mengetahui Manfaat Empati. BAB II PEMBAHASAN A. Definisi dan Konsep Empati 1. Definisi Empati Empati berasal dari bahasa Yunani, yaitu ” emphatia” yang berarti gairah atau ketertarikan fisik yang mengacu pada kemampuan pikiran, emosi, niat, dan ciri-ciri kepribadian dari orang lain dan memahami apa yang di inginkan. Menurut Taufik dalam bukunya “ Empati psikologi sosial” mendefinisikan empati sebagai cara untuk memahami kondisi orang lain. Empati mencangkup respon tersendiri terhadap perasaan orang lain seperti rasa kasihan, kesedihan dan rasa sakit. Keadaan empati atau pemahaman empati merupakan cara untuk memahami kerangka acuan internal lain dengan memaknai komponen emosional yang dikandungnya seperti yang dirasakan orang lain, menempatkan diri ditempat lain seperti seolah-olah menjadi-menjadi. Empati bisa disebut juga sebagai kepedulian sosial. a) Robert A Baron Dalam bukunya yang berjudul Social Psychology, empati adalah kemampuan seseorang untuk bereaksi terhadap emosi negatif atau positif orang lain seolah-olah emosi itu dialami sendiri. Di sinilah letak perbedaan antara empati dengan simpati. Jika simpati bermakna bisa mengerti dan peduli dengan pikiran dan perasaan orang lain, namun empati lebih dalam lagi, yakni bisa merasakan dan memahami benar atas pikiran dan perasaan orang lain. Lebih mudahnya begini, "Saya mengerti perasaan Anda" inilah kata-kata yang dihasilkan oleh sebuah rasa yang bernama simpati. Namun, "Saya merasakan yang Anda rasakan" inilah kata-kata yang dihasilkan oleh sebuah rasa yang bernama empati. b) PR Greenson empati merupakan sarana untuk berbagi, untuk memahami perasaan orang lain. c) Alfred Adler mendefinisikan empati dengan kemampuan seseorang untuk “melihat dengan mata orang lain, mendengar dengan kuping orang lain, dan merasakan dengan hati orang lain”. Rasa kepedulian, kasih sayang, dan keinginan menolong sesama adalah bersumber dari adanya rasa empati pada diri seseorang. Seorang yang mempunyai rasa empati dapat merasakan penderitaan orang lain, binatang, atau makhluk hidup lainnya, sehingga timbul keinginan untuk dapat berbuat sesuatu untuk menolong atau meringankan penderitaan sesama makhluk hidup. 2. Konsep Empati Menurut Al-Qur’an dan Hadits a. MenurutAl-qur`an Sebagai seorang manusia rasa empati sudah terkandung pada jiwanya. Lalu bagaimana seseorang itu mengaplikasikannya. Islam mengajarkan kepada kita untuk bersikap empati, seperti harus memiliki rasa sifat pemurah, dermawan, saling membantu, tolong-menolong dan lainnya. Hal ini berkaitan dengan Firman Allah SWT dalam surat Al-Maidah ayat yang artinya “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan taqwa” (QS. Al-Maidah: 2) b. Rasulullah SAW bersabda, ''Jika orang-orang tidak lagi mempedulikan orang miskin, memamerkan kekayaannya, bertingkah seperti anjing (menjilat atasan, menendang bawahan), dan hanya mengeruk keuntungan, maka Allah mendatangkan empat perkara: paceklik, kezaliman penguasa, pengkhianatan penegak hukum, dan tekanan dari pihak musuh.'' (HR Ad-Dailami). Untuk itu, belajarlah berempati. Sehingga, bukan hanya kasih sayang sesama yang dirasakan, tapi juga kasih sayang Allah. Rasulullah SAW memastikannya lewat sabda beliau, ''Orang-orang yang menyayangi sesamanya akan disayangi Allah.'' (HR Ahmad). Betapa nikmatnya jika kita termasuk golongan manusia yang disayangi Allah SWT. Pendidikan yang membahas tentang pentingnya empati telah lama dikenal, akan tetapi kita belum bisa menjalankan sepenuhnya. Buktinya, masih banyak di sekitar kita orang yang menderita kelaparan, balita kekurangan gizi, busung lapar, dan berbagai penderitaan lain yang biasa menyelimuti orang-orang miskin. Lebih menyedihkan lagi, sampai saat ini masih banyak kebijakan penguasa yang kurang memihak rakyat kecil. Padahal, sikap demikian inilah yang mendatangkan bencana bagi kita semua. Jika kita tajam dalam berempati, hal seperti itu tidak semestinya terjadi. B. Menumbuhkan Rasa Empati Sikap peduli sesama, secara potensial dimiliki oleh setiap manusia dalam lubuk hatinya. Ada suatu kecenderungan alami, yang membuat manusia memiliki keterarahan kepada sesamanya. Namun kepedulian yang benar-benar terarah demi kamajuan sesame harus dibangun dan dikembangkan melalui proses panjang dan terus menerus. 1. Membangun suasana kehidupan yang humanis Suasana kehidupan dalam suatu kelompok masyarakat perlu dijaga bersama agar setiap warganya menunjukan sikap perilaku saling peduli, sehingga dapat terwujud kehidupan yang damai, yaman, tertib, dan teratur. Dalam lingkungan masyarakat seperti ini selalu terlihat semangat gotong-royong atau kerjasama dalam banyak bidang. Kelompok masyarakat yang memiliki status sosial ekonomi kuat membantu kelompok yang lemah, yang berlebihan membantu yang berkekurangan. Bentuk bantuan tidak seperti yang diibaratkan dengan “ memberi ikan” melainkan “member pancing”. Bentuk gotong-royong seperti itu saat ini menjadi harapan. Kenyataan yang banyak terjadi adalah, tindakan gotong royong lebih terlihat pada sikap saling peduli bila ada kemalangan, seperti adanya kematian, kecelakaan, kebakaran , banjir, tanah lingsor dan sebagainya. 2. Mengembangkan keutamaan dan kebijakan Dalam upaya mendorong berkembangnya kepedulian sosial dimasyarakat, manusia perlku mengembangkan keutamaan tau kebijakan (virtue) dalam diri masing-masing. Secara sederhana keutamaan dapat diartikan sebagai kesanggupan dan kemudahan serta kecondongan untuk melaksanakan tindakan tertentu yang pantas bagi kemanusiaan. Manusia yang memiliki keutamaan atau kebijakan adalah mereka yanga selalu menaruh kepedulian terhadap sesamanya. Kepedulian ini tidak hanya terungkap dalam kata-kata kosongtetapi melalui tindakan nyata. Kemampuan berempati ini termasuk dalam kecerdasan emosional yang sangat erat kaitannya dalam upaya mengembangkan kecerdasam sosial. Sebab, termasuk dalam kemampuan berempati adalah sejauh mana seseorang mempunyai keterampilan untuk bisa mendengarkan dan memahami maksud dari pikiran yang disampaikan oleh orang lain. Kemampuan ini juga sangat erat kaitannya dengan sejauh mana seseorang bisa berempati dengan pandangan dan gagasan orang lain. Apabila hubungan seseorang dengan orang lain dibangun dengan sebuah empati maka akan terjalin sebuah hubungan yang hangat, kompak, mudah menyatukan visi dan misi, tidak terlalu sulit mengembangkan gagasan dan langkah-langkah untuk mencapai sebuah tujuan. Bahkan, dapat dikatakan bahwa empati adalah fondasi dari semua interaksi hubungan antar-manusia. Sebab, sebuah hubungan akan sulit terbangun dengan baik tanpa adanya empati ini. Kemampuan dalam mengembangkan empati ini dapat kita latihkan kepada anak. Pertama-tama kita mesti sabar untuk terus melatih anak kita agar bisa dan terbiasa untuk mendengarkan dengan baik ketika orang lain bercerita atau menyampaikan pikiran dan suara hatinya. Mendengarkan dengan baik ini penting agar seseorang bisa memahami yang pada akhirnya turut bisa juga merasakan. Untuk bisa mendengarkan dengan baik ini memang membutuhkan kesabaran. Sebab, kecenderungan orang pada umumnya adalah bercerita atau ingin didengarkan daripada mendengarkan. Sebagaimana kecenderungan orang pada umumnya adalah ingin dimengerti dan dipahami daripada mau mengerti dan memahami orang lain. Kemampuan untuk bisa menjadi pendengar yang baik ini bisa kita stimulasikan ketika anak-anak kita kedatangan temannya ke rumah. Kita bisa bertanya-tanya tentang keluarganya, hal yang menjadi kesukaannya, cita-citanya, dan sebagainya kepada teman dari anak kita tersebut di hadapan anak kita. Supaya stimulasi untuk menjadi pendengar yang baik ini tetap berjalan dengan menyenangkan, kita juga memberikan selingan bertanya kepada anak kita mengenai pendapatnya dan kita pun memberikan contoh untuk menjadi pendengar yang baik. Di samping memberikan contoh menjadi pendengar yang baik, kita juga perlu memberikan kesadaran tentang pentingnya menjadi pendengar yang baik ketika orang lain bercerita atau menyampaikan gagasan dan perasaannya. Selain kita melatih anak kita untuk bisa mendengarkan dengan baik, kita juga bisa mengajak anak-anak kita untuk berkunjung ke tempat-tempat yang bisa menyentuh hati. Misalnya, sesekali kita mengajak anak kita untuk berkunjung ke panti asuhan yatim piatu. Di panti tersebut, kita tidak sekadar datang, memberikan sumbangan, lantas berpamitan. Namun, kita mengajak anak-anak kita untuk duduk dan bercerita bersama anak-anak yatim dan pengelolanya. Atau, kita juga bisa berkunjung ke panti asuhan jompo. Biasanya, orang-orang yang berusia lanjut di panti jompo lebih suka untuk menceritakan kenangan-kenangan indah mereka di masa lalu. Cobalah kita bersama anak-anak kita untuk bisa menjadi pendengar yang baik, sehingga bisa memunculkan empati sebagai aspek penting dalam kecerdasan sosial. C. Hambatan Dalam Berempati Ada bermacam-macam hal yang bisa dikemukakan sebagai penghambat bagi seseorang untuk menghayati kepedulian kepada sesamanya. Disini hanya disebut dua saja, sebagai penghambat serius yang sering sangat sulit dikalakan. 1. Egoisme Sumber hambatan dalam mewujudkan kepedulian sosial terdapat dalam diri manusia sendiri, yaitu egoisme, yang merupakan doktrin bahwa semua tindakan seseorang terarah atau harus terarah kepada diri sendiri. Egoisme dapat dibagi menjadi atas dua, yaitu: a) Egoisme etis, yaitu pandangan bahwa setiap pribadi setiap pribadi hendaknya bertujkuan meningkatkan kesejahteraan dan kepentingannya sendiri. Kesejahteraan tertinggi dalam hidup adalah memperoleh sebanyak-banyaknya kepuasan dan kenikmatan bagi diri sendiri. Kebahagiaan diri sendiri hendaknya menjadi nilai pertama dan terakhir dan semua nilai lainnya datang darinya. b) Egoisme psikologis, yang mengacu pada pendapat bahwa semua individu, pada kenyataan sungguh-sungguh mencari kepentingannya sendiri pada setiap waktu. Semua tindakan manusia, sadar atau tidak, digerakan oleh hasrat akan kesejahteraan dan kepuasan diri sendiri. Bahwa ada orang yang bertindak demi kepentingan orang lain, itu hanya nampaknya saja, akan tetapi untuk kesenangan diri sendiri. Egoisme menutup diri manusia agar tidak menaruh kepedulian kepada sesama. Oleh karena itu egoisme selalu merupakan lawan dari sikap ekstrim, altruism, yaitu sikap manusia yang selalu membuka dirinya kepada sesame, bahkan memberikan dirinya untuk mengenkat harkat martabat kemanusiaan sesamanya. Altruisme disebut ekstrim karena ada kecenderungan tidak peduli terhadap diri sendiri, membiarkannya tersiksa bahkan dan bahkan hancur demi kebaikan orang lain. 2. Materealistis Sumber hambatan yang kedua adalah materialistis, yang merupakan sikap perilaku manusia yang sangat mengutamakan materi sebagai sarana pemenuhan kebutuhan hidupnya. Kaum materialistis biasanya selalu berupaya mengumpulkan materi sebanyak mungkin buat diri dan keluarganya sendiri. Demi terwujudnya maksud itu mereka umumnya tidak terlalu mementingkan cara untuk mendapatkannya. Oleh karena itu kepedulian terhadap sesame menjadi kurang bahkan semakin menuju ketiadaan. Dengan pola piker seperti ini, manusia materialistis akan menghalalkan segala cara agar keinginannya untuk memiliki materi agar terwujud. Hal ini yang mendorong terjadinya korupsi, kolusi, dan nepotisme yang terjadi diberbagai lingkungan birokrasi, mulai dari tingkat atas sampai yang paling bawah. Zaman globalisasi yang biasa disebut zaman modern menyebabkan semakin menipisnya empati pada diri setiap individu. Semakin modern dunia, paham kapitalis semakin menguat, egoisme semakin tinggi pada diri individu sehingga tidak adanya cinta tehadap sesama. Menurut Erick Fromm cinta merupaka suatu kegiatan (activity) yang cirinya adalah dengan memberi, sehingga dalam hal ini memberi berarti memberikan kesediaan kita untuk bisa peduli terhadap orang lain. Cinta terhadap sesama manusia semakin menipis sehingga tidak adanya kepedulian terhadap sesama. Individu disibukkan dengan cintanya terhadap diri sendiri dan kehidupannya sendiri. Hal inilah yang menyebabkan timbulnya masalah sosial yang sering kita jumpai saat ini. D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Empati Beberapa faktor, baik psikologis maupun sosiologis yang mempengaruhi proses empati antara lain sebagai berikut : 1. Sosialisasi Dengan adanya sosialisasi memungkinkan seseorang dapat mengalami sejumlah emosi, mengarahkan seseorang untuk melihat keadaan orang lain dan berpikir tentang orang lain. 2. Perkembangan kognitif Empati dapat berkembang seiring dengan perkembangan kognitif yang bisa dikatakan kematangan kognitif, sehingga dapat melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain berbeda). 3. Mood dan Feeling Situasi perasaan seseorang ketika berinteraksi degan lingkunngannya akan mempengaruhi cara seseorang dalam memberikan respon terhadap perasaan dan prilaku orang lain. 4. Situasi dan tempat Situai dan tempat tertentu dapat menberikan pengaruh terhadap proses simpati seseorang. Pada situasi tertentu sesorang dapat berempati lebih baik disbanding situasi yang lain. 5. Komunikasi Pengungkapan empati dipengaruhi oleh komunikasi (bahasa) yang digunakan seseorang. Perbedaan bahasa dan ketidakpahaman tentang komunikasi yang terjadi akan menjadi hambatan pada proses empati. E. Manfaat-Manfaat Empati Ada beberapa manfaat yang dapat kita temukan dalam kehidupan pribadi dan sosial manakala kita mempunyai kemampuan berempati, diantaranya : 1. Menghilangkan sikap egois Orang yang telah mampu mengembangkan kemampuan empati dapat menghilangkan sikap egois (mementingkan diri sendiri). Ketika kita dapat merasakan apa yang sedang dialami orang lain, memasuki pola piker orang lain dan memahami prilaku orang tersebut, maka kita tidak akan berbicara dan berprilaku hanya untuk kepentingan diri kita tetapi kita akan berusaha berbicara, berpikir, dan berprilaku yang dapat diterima juga oleh orang lain serta akan mudah memberikan pertolongan kepada orang lain. Kita akan berhati-hati dalam mengembangkan sikap dan prilaku kita sehari-hari, khususnya jika berada dalam kondisi yang membutuhkan pertolongan kita. 2. Menghilangkan kesombongan Dengan membayangkan apa yang terjadi pada diri orang lain terjadi pula pada diri kita, maka kita akan terhindar dari kesombonngan atau tinggi hati karena apapun bisa terjadi pada diri kita jika Tuhan berkehendak. Kita tidak akan merendahkan orang lain karena kita telah mengetahui perasaan dan memahami apa yng sebenarnya terjadi, sehingga oranng yang mempunyai kemampuan empati akan cenderung memiliki jiwa rendah hati dan senantiasa memahami kehidupan ini dengan baik. Roda senantiasa berputar, itulah kehidupan. 3. Mengembangkan kemampuan evaluasi dan kontrol diri Pada dasarnya empati adalah salah satu usaha kita untuk melakukan evaluasi diri sekaligus mengembangkan control diri yang positif. Kemampuan melihat diri orang lain lain baik perasaan, pikiran maupun prilakunya merupakan bagian dari bagaimana kita akan merefleksikan keadaan tersebut dalam diri kita. Jika kita telah mempunyai kemampuan ini maka kita telah dapat mengembangkan evaluasi diri yang baik artinya kita akan senantiasa berhati-hati dalam melakukan perbuatan atau memahami lingkungan sekitar kita. BAB III PENUTUP Kesimpulan Empati berasal dari bahasa Yunani, yaitu ” emphatia” yang berarti gairah atau ketertarikan fisik yang mengacu pada kemampuan pikiran, emosi, niat, dan ciri-ciri kepribadian dari orang lain dan memahami apa yang di inginkan. Empati mencangkup respon tersendiri terhadap perasaan orang lain seperti rasa kasihan, kesedihan dan rasa sakit. Keadaan empati atau pemahaman empati merupakan cara untuk memahami kerangka acuan internal lain dengan memaknai kkomponen emosional yang dikandungnya seperti yang dirasakan orang lain, menempatkan diri ditempat lain seperti seolah-olah menjadi-menjadi. Empati bisa disebut juga sebagai kepedulian sosial. Menurut konsep Al-Qur’an, Islam mengajarkan kepada kita untuk bersikap empati, seperti harus memiliki rasa sifat pemurah, dermawan, saling membantu, tolong-menolong dan lainnya. Hal ini berkaitan dengan Firman Allah SWT dalam surat Al-Maidah ayat yang artinya “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan taqwa” (QS. Al-Maidah: 2) . Menumbuhkan empati, dapat dilakukan antara lain dengan cara berikut, yaitu membangun suasana kehidupan yang humanis, mengembangkan keutamaan dan kebijakan. Adapun hambatan dalam berempati diantaranya yaitu adanya egoisme dan materialistis. Beberapa faktor, baik psikologis maupun sosiologis yang mempengaruhi proses empati antara lain sosialisasi, perkembangan kognitif, mood dan feeling, situasi dan tempat, dan komunikasi. Ada beberapa manfaat yang dapat kita temukan dalam kehidupan pribadi dan sosial manakala kita mempunyai kemampuan berempati, diantaranya dapat menghilangkan egoisme, menhilangkan kesombongan, dan dapat mengembangkan kemampuan evaluasi dan control diri. DAFTAR PUSTAKA Athosokhi Gea S.T.h,Antonius.2005. Relasi dengan Sesama. Jakarta: PT Gramedia. Budiningsih,Asri.2004 . Pembelajaran Moral. Jakarta, Rineka Cipta. Corey, Gerald. 2005. Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Bandung: PT Refika Aditama wirawan sarwono,Sarlito.1999.Osikologi Sosial. Jakarta: Balai Pustaka. http://www.kumpulan istilah.com/2011/02/pengertian-empati.html?m=1 http://yulhanrinto.blogspot.com/2012/01/empati.html
 

Blogroll

About